Semua Daerah Kembangkan Pangan Lokal
Sabtu, 12 September 2009 11:13    PDF Cetak Email

KUPANG, Program pengembangan pangan lokal yang dicanangkan Pemerintah Propinsi Nusa Tenggara Timur (Pemprop NTT) mulai digalakkan di berbagai daerah di seluruh NTT. Hal ini terlihat pada pameran pangan lokal tingkat Propinsi NTT di area parkir Flobamora Mall-Kupang, Kamis (10/9/2009). Hampir semua kabupaten/kota memiliki anjungan dan memamerkan berbagai jenis pangan lokal.

Dari pengamatan Pos Kupang di setiap anjungan tersebut, bisa disimpulkan bahwa daerah-daerah di NTT memiliki potensi pangan lokal yang sangat kaya. Dari segi bahan mentah, sebagian besar sama di antara semua daerah. Jagung, beras hitam, kacang-kacangan, ubi-ubian dan buah-buahan hampir semuanya terdapat di setiap anjungan. Yang sedikit berbeda hanya soal pengolahan dan pengemasannya.

Di anjungan Kabupaten Sumba Barat, dipamerkan kripik keladi bentoel dan kripik singkong (produksi Kuda Bintang), kue kering maizena-pisang, sambal goreng keladi- kacang, kripik pisang dan kue kering tepung tapioka, kacang sumba dan sebagainya.

Di anjungan Kabupaten Sumba Barat Daya dipamerkan tortila pisang, kacang tanah, jambu mete dan tortila jagung. Ada juga keladi dan ubi-ubi lainnya yang masih berupa bahan mentah. Di Kabupaten Sumba Timur dipamerkan cake dan kue kering berbahan dasar gadung/iwi (jenis umbi hutan).

Sedangkan di anjungan Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), selain kripik pisang, ada laku peku (ubi bakar bambu), emping ubi kayu, abon jambu mete dan abon nangka dari Kesetnana, ada kecap air kelapa, dan sejumlah bahan lokal lainnya. Di anjungan Kabupaten TTU ada krupuk jagung, krupuk wortel, krupuk buncis, stik labu kuning, stik jagung.

Sedangkan di anjungan Kabupaten Ngada, selain berbagai jenis kripik dan krupuk, dipamerkan kopi bubuk jenis arabika. Menurut Marsianus Djawa yang menjaga anjungan tersebut, kopi arabika Ngada sudah sangat terkenal bahkan sudah dipasarkan ke Amerika. Namun pemasaran itu masih dalam bentuk kopi biji. Saat ini kopi arabika Ngada terus diolah menjadi kopi bubuk oleh para petani.

                                   

Daya Tahan

Menurut Ir. Hartini H. A (Kabid Konsumsi dan Keamanan Pangan pada Badan Bimas Ketahanan Pangan Kabupaten Sumba Timur), instruksi Gubernur NTT untuk mengonsumsi pangan lokal sudah ditindaklanjuti oleh Bupati Sumba Timur, Drs. Gidion Mbiliyora, dengan mengeluarkan instruksi agar seluruh masyarakat Sumba Timur mengembangkan dan mengonsumsi pangan lokal.

Hasil dari instruksi tersebut, kata Hartini, kini konsumsi untuk acara di kantor-kantor di Sumba Timur semuanya berupa bahan lokal. Juga kalau ada tamu dari luar daerah yang datang ke Sumba Timur.

Di Sumba Barat program pangan lokal juga sangat hidup. Menurut Susianah dari Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian dan Ketahanan Pangan (BP3KP) Sumba Barat, program pangan lokal ini digalakkan melalui kerja sama dengan berbagai instansi terkait. Instansi-instansi itu terus mensosialisasikan pengembangan pangan lokal kepada masyarakat.

Menurut Susianah, masyarakat Sumba Barat tidak kesulitan mengembangkan pangan lokal, karena selama ini mereka sudah hidup dari pangan lokal. Mereka memiliki sekian banyak pangan lokal. Yang perlu terus didorong, demikian Susianah, agar bahan pangan ini diolah dan dikemas menjadi bahan jadi atau setengah jadi. Dengan demikian, bahan-bahan itu tidak hanya untuk konsumsi mereka, tetapi juga bisa dijual ke pasar.

Menurut Bernadinus Rendo dari Badan Ketahanan Pangan Sumba Barat Daya, pangan lokal yang dipamerkan di anjungannya itu merupakan hasil karya kelompok- kelompok tani. Kelompok-kelompok itu bahkan sempat belajar sampai di Malindo, Sulawesi Selatan. Maksudnya, agar mereka memproduksi bahan-bahan lokal tidak sebatas untuk konsumsi sendiri, tapi juga bisa dijual di pasar. Hal ini semua praktis berjalan sangat baik.

Tantangan yang dihadapi Sumba Barat Daya, demikian Bernadinus, bagaimana agar bahan-bahan pangan lokal itu bisa bertahan lama dan mempunyai daya saing di pasar.

Sementara Nunuk dari Dinas Pertanian TTS menilai masyarakat TTS sudah cukup kreatif dalam mengembangkan pangan lokal yang bisa dilihat dari hasil karya mereka. Instansi-instansi terkait cukup aktif mendorong pengembangan pangan lokal oleh masyarakat. Bahkan Dinas Perindustrian TTS siap menampung semua hasil karya pangan lokal masyarakat.

Magel dari Badan Ketahanan Pangan dan Pelaksana Penyuluhan Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), mengatakan, program pangan lokal tidak hanya di kelompok- kelompok, malah sampai di rumah tangga. Menurut dia, masyarakat TTU tidak kesulitan melaksanakan program ini karena masyarakat hidup dari pangan lokal.

Pameran pangan lokal tingkat NTT akan berlangsung sampai tanggal 12 September 2009. Pameran ini dibuka oleh Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya di area parkir Flobamora Mall, Kamis (10/9/2009). Pada hari terakhir pameran ini, Sabtu (12/9/2009), akan diadakan lomba pangan lokal antardaerah di NTT. (ati / pos-kupang.com)