| 1.724 Desa Dapat Bantuan Pembangunan Infrastruktur | ||||
|
|
JAKARTA--Departemen Pekerjaan Umum (Departemen PU) bekerja sama dengan Asian Development Bank (ADB) meluncurkan program Rural Infrastructure Support PNMP Mandiri (RIS PNPM Mandiri) senilai Rp 431 miliar. RIS PNPM Mandiri merupakan program penguatan dari Program Peningkatan Infrastruktur Perdesaan (PPIP) yang telah ada sejak tahun 2005. "Titik berat penguatan adalah penyempurnaan proses pemberdayaan masyarakat dalam pembangunan infrastruktur perdesaan berdasarkan evaluasi program, baik internal maupun eksternal," kata Dirjen Cipta Karya Departemen PU, Budi Yuwono, Senin (19/10) dalam siaran pers yang diterima Republika. Lebih dari 2 juta penduduk dari 1.724 desa di empat provinsi di Sumatera bagian Selatan, yakni Riau, Jambi, Sumatera Selatan dan Lampung. Program RIS PNPM Mandiri akan dilaksanakan melalui penyaluran dana Bantuan Pembangunan Infrastruktur Desa sebesar Rp 250 juta/desa. "Program RIS PNPM Mandiri ini diproyeksikan akan melibatkan labih dari 75 ribu tenaga kerja setempat. Akan ada lebih dari 2 juta penduduk desa yang terkena dampak ekonomi secara langsung," Project Coordination and Monitoring Unit PCMU RIS PNPM Mandiri- Ditjen Cipta Karya - Departemen PU, Panani Kesal menambahkan. Dana senilai Rp 250 juta/desa akan dikelola sepenuhnya oleh Organisasi Masyarakat Setempat (OMS) hasil msuyawarah warga setempat. Design RIS PNPM Mandiri, sepenuhnya mengimplementasikan konsep pembangunan berbasis masyarakat, dimana masyarakat memegang peranan melakukan perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan pembangunan sesuai kebutuhan mereka. Fokus sasaran program RIS PNMP Mandiri adalah kegiatan peningkatan prasarana perdesaan, yang diupayakan melalui tiga penguatan. Diantaranya adalah penguatan kapasitas pemerintah daerah sebagai enabler pembanguna berbasis masyarakat, penguatan pola pendekatan program agar lebih menumbuhkan partisipasi dan swadaya masyarakat, dan penguatan prinsup dan pendekatan program yang dapat mendorong penyelenggaraan good governance. "Sedapat mungkin kebocoran di lapangan bisa diminimalkan melalui desain program tersebut," Panani menandaskan. (republika) |




