| Petani minta subsidi harga benih kelapa sawit | ||||
|
Anizar Simanjuntak, Ketua Umum DPP Apkasindo, berpendapat harga bibit atau kecambah masih terlalu mahal, sehingga para petani belum mampu mengganti seluruh tanaman yang kurang produktif dengan kecambah yang menghasilkan produktivitas tinggi. Menurut dia, petani sudah ada yang membeli bibit dari para produsen seperti Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Medan, tetapi jumlahnya masih terbatas karena produksi PPKS juga terbatas. Apkasindo berharap agar pemerintah memberikan subsidi bibit sawit kepada para petani, terutama yang akan membuka areal perkebunan dan melaksanakan tanam ulang. "Petani yang perlu dibantu adalah petani yang mengusahai areal di bawah 5 hektare," katanya kemarin. Menurut dia, dengan begitu produktivitas tanaman kelapa sawit rakyat dapat ditingkatkan. "Sekarang masih banyak petani kelapa sawit yang menangkar sendiri bibit, sehingga kualitasnya jauh dari harapan," ujarnya di Medan, kemarin. Menurut dia, secara nasional luas areal perkebunan kelapa sawit milik petani mencapai 2,3 juta hektare dan 1,5 juta hektare sudah waktunya diremajakan. Sementara itu, Fajar Harahap, seorang petani kelapa sawit di Kabupaten Labuhanbatu, Sumut mengakui selama ini para petani terjebak dalam permainan para penangkar benih dengan mengeluarkan bibit palsu seolah-olah dihasilkan oleh PPKS Marihat. "Banyak petani kecil yang terjebak membeli bibit mariles [sebutan bibit asli tetapi palsu produksi PPKS Marihat], sehingga setelah tanaman berumur 5 tahun buah sawit tidak pernah ada," ujarnya. Oleh karena itu, lanjut dia, sebaiknya pemerintah membantu pengadaan bibit kelapa sawit petani skala kecil, sehingga tidak terjebak dalam lingkaran permainan para penangkar benih palsu. Dia mengakui di Kabupaten Labuhanbatu, petani kelapa sawit sudah mulai selektif untuk membeli kecambah, karena banyak pekebun terkena tipu bibit palsu. Apalagi tanaman periode 1980-an, kata dia, produktivitasnya tidak begitu tinggi karena bibit kelapa sawit yang ditanam adalah palsu. Lantas, paparnya, saat ini para petani memperhitungkan kalau tetap membiarkan tanaman berproduksi rendah itu di areal perkebunan, mereka akan rugi. "Jadi, mau tidak mau, tanaman kelapa sawit yang produktivitasnya hanya 5-8 ton per hektare per tahun harus diremajakan, sehingga petani kelapa sawit membutuhan modal relatif besar," tandasnya. ( bisnis ) |




