| Pengeluhan Seorang Kepala Desa | ||||
|
ISKANDI, Ada sahabat saya yang sekarang sudah menjadi kepala desa, tidak terlalu jauh dari kota kabupaten, hanya 25 km. Sahabat saya itu salah satu masyarakat dampingan LSM.. Pada tahun 2000 dia menjadi kepala desa. Beberapa kali sahabat saya itu menjadi utusan LSM dalam kegiatan di Bali dan Lombok. Waktu itu sahabat saya itu sudah menjadi kepala desa. Walau sudah menjabat kepala desa, dia tetap berkiprah dengan teman-teman aktifis.LSM. Setiap kali dia ke kota pasti bermalam di sekertariat. Saya sengaja menyiapkan satu kamar khusus, saya serahkan kunci kamar kepada sahabat saya itu. Pak kepala, demikian saya menyapanya, banyak memberi pengetahuan kepada saya. Ketika pemilu baru-baru ini, banyak partai membuat analisa kekuatan partai politik di kecamatan dan desanya yang memiliki pemilih lumayan besar. Dari semua analisa pengamat lokal tidak ada yang tepat. Dan hanya analisa kekuatan partai politik dari sahabatku itu yang tepat. Banyak pejabat di kabupaten yang ngotot bahwa masyarakat di pedesaan itu hidupnya lumayan. Kalau ada yang mengatakan bahwa orang sekarang ini lagi susah,mereka bantah. Katanya, hanya dibesar-besarkan saja oleh LSM. Ketika saya tanyakan kepada pak kepala, jawabnya : memang benar masyarakat di desa lagi susah. Baru-baru ini ada pembagian beras raskin. Dari 600 KK penduduk di desa saya, 250 KK yang termasuk warga miskin penerima raskin. Ada empat ton (4000 kg) beras dan saya bagi rata agar semua mendapat bagiannya. Jadi tidak mengikuti aturan bahwa setiap warga miskin menerima 20 kg. Kalau begitu maka akan ada yang tak mendapatkan bagian. Masih menurut pak kepala, yang bikin repot, sebab sebahagian warga datang meminjam uang ke saya untuk membayar harga raskin. Raskin ndak boleh di utang. Harus segera dibayar ke Dolog. Memang benar warga tidak meminta. Istilahnya pinjam. Tapi kapan bayarnya ? Nah, itu baru terjadi tahun ini. Kalau tahun-tahun sebelumnya, ndak seperti itu. Ndak ada warga nekad datang pinjam ke saya. Bahkan dulu, ada raskin yang ndak diambil, sebab warga mash ada persediaan beras. Warga pergi memotong padi sudah cukup mendapat pembagian sekian karung gabah dan itu sudah cukup buat persediaan selama menunggu panen berikutnya. Sekarng ini warga betul-betul susah. Buah kakao hampir tidak bisa dinikmati lagi oleh warga , sebab pohon dan buahnya sudah diserang hama penyakit. Banyak pohon sudah mati. Yang ndak mati, sudah tak produktif lagi. Soalnya sekarang agak pakat (seret) uang. Demikian kata pak kepala sambil menggosok-goskan jari telunjuk dan jempol. ‘Jadi, gimana pak kepala menghadapi semua itu. “ tanya saya “Saya menghubungi Kepala Dinas Transmigrasi. Ada proyek disitu. Saya minta agar pengerjaan phisiknya diserahkan ke desa. Jadi, masyarakat bekerja. Digaji Rp 20 ribu sehari. Ya, lumayan buat masyarakat sementara menunggu panen padi dan cengkih yang tak lama lagi.” Demikian pak kepala menjelaskan. Saya sangat bangga dengan sahabat saya itu yang telah menjadi kepala desa. Sebab dia itu kreatif mencarikan solusi atas masalah yang menimpa warganya. Tidak percuma kerja-kerja LSM yang melakukan pembinaan terhadap masyarakat. Salah satu masyarakat binaan LSM, ya.. sahabat saya itu. Ternyata ada juga kader yang dapat diandalkan dalam kerja-kerja pengabdian kepada masyarakat melalui profesi kepala desa. Walau mustahil kita menjadikan dunia ini seperti firdaus, minimal, ketika ada yang dapat memberikan solusi atas problem masyarakat, artinya, dunia yang kita pijak ini semakin baik dan manusia yang menghuninya dapat keluar dari problem kehidupan mendesak yang dialami sehari-hari.( kompasiana.com/iskandi ) |




