| Sebagai produsen terbesar, Indonesia menggodok insentif perdagangan CPO | ||||
|
JAKARTA: Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu mengatakan pemerintah masih menggodok pemberian insentif, di antaranya berupa fasilitas pajak, bagi pemain perdagangan fisik minyak sawit mentah di dalam negeri. Mendag menuturkan insentif fiskal yang masih digodok di antaranya fasilitas pajak untuk pemain lelang minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) yang dikelola Bursa Berjangka Jakarta (BBJ). Pernyataan tersebut juga diklaim sebagai bagian dari komitmen Depdag untuk mengembangkan industri perdagangan kontrak berjangka komoditas di dalam negeri. "Yang masih dicoba adalah CPO. Bagaimana pelaku dalam negeri seperti [beberapa] PT Perkebunan Nusantara mendapatkan insentif pajak untuk perdagangan CPO. Namun, bagaimana caranya itu adalah suatu proses yang membutuhkan waktu," katanya pada saat menerima kunjungan Bisnis, Selasa. Sebagian pemangku kepentingan berharap lelang CPO yang dikelola BBJ dapat menjadi salah satu jalan untuk menjadikan Indonesia sebagai referensi harga beberapa komoditas unggulan dari Tanah Air. Perdagangan fisik di BBJ yang diberi nama Pasar Fisik Terorganisasi diluncurkan pada 23 Juni dan pada tahap awal baru memperdagangkan CPO. Namun, bursa itu berjanji akan memperbanyak jenis komoditas yang diperdagangkan terutama produk unggulan dari Tanah Air seperti teh, kopi, emas, dan batu bara. Posisi Indonesia yang merupakan produsen terbesar CPO di dunia mendorong sejumlah pemain pasar prihatin karena penentuan harga komoditas itu masih mengacu pembentukan nilai kontrak di luar negeri seperti Malaysia Derivatives Exchange dan pasar Rotterdam.
Lonjakan stok Harga minyak sawit mentah untuk pengiriman Januari pada 3 November turun 1% menjadi RM2.186 atau setara dengan US$639 per ton di bursa Malaysia. Pelemahan harga komoditas itu di antaranya akibat kenaikan pasokan CPO di Indonesia. Derom Bangun, Wakil Ketua I Dewan Minyak Sawit Indonesia seperti dikutip Bloomberg, mengatakan cadangan minyak sawit di Tanah Air berpotensi melonjak menjadi 1,7 juta ton pada Oktober lebih tinggi dari rata-rata produksi 1,3 juta-1,4 juta ton yang dicatat selama Agustus-September. Dia mengatakan produksi miyak sawit di Indonesia kemungkinan akan menembus 21,5 juta-22 juta ton pada 2010 karena banyaknya tanaman yang sudah matang. Dia menginformasikan proyeksi produksi minyak sawit Indonesia tahun ini sekitar 20,5 juta ton. Mari melanjutkan Indonesia merupakan produsen terbesar minyak sawit mentah, tetapi Jakarta belum memanfaatkan posisinya tersebut. Depdag, sambungnya, dalam 5 tahun ke depan akan berupaya mengembangkan sejumlah potensi komoditas termasuk CPO di antaranya melalui penajaman klaster agar berdaya saing. Mendag menjelaskan pengembangan CPO semestinya tidak terfokus pada bahan baku, produk turunannya seperti minyak goreng, sabun, dan biofuel. Pengembangan minyak sawit, katanya, juga harus merambah input seperti perluasan lahan, benih, dan pupuk. "Kita cukup strong di lahan, tetapi bagaimana benih, pupuk, penelitian dan pengembangan. Kalau kita lihat Malaysia cukup kuat di wilayah itu. Bagaimana pula pembiayaannya? Itu keseluruhan satu klaster yang harus dipelajari bagian-bagiannya," katanya. Selain itu, Mendag menuturkan Indonesia juga perlu memperbaiki dukungan infrastruktur, sehingga pengiriman ke pasar luar negeri dan penyimpanan komoditas di dalam negeri agar harga lebih stabil. (bisnis) |




