INDAH AYU WARDHANI, - Potensi Pertanian Desa, Desa lahir setelah cocok tanam dikenal manusia. Sebagai tempat pemukiman desa memiliki hubungan erat dengan pertanian. Sebab, cocok tanam memaksa orang tinggal di suatu tempat untuk memelihara tanaman dan menunggu hasil panennya. Eratnya kaitan eksistensi desa dan pertanian ini menyebabkan orang cenderung mengidentifikasikan desa dengan pertanian. Umumnya orang berpendapat bahwa masyarakat desa adalah petani dan petani adalah masyarakat desa. |
|
|
 ISKANDI, Ada sahabat saya yang sekarang sudah menjadi kepala desa, tidak terlalu jauh dari kota kabupaten, hanya 25 km. Sahabat saya itu salah satu masyarakat dampingan LSM.. Pada tahun 2000 dia menjadi kepala desa. Beberapa kali sahabat saya itu menjadi utusan LSM dalam kegiatan di Bali dan Lombok. Waktu itu sahabat saya itu sudah menjadi kepala desa. Walau sudah menjabat kepala desa, dia tetap berkiprah dengan teman-teman aktifis.LSM. |
|
| YOSEP ROSPENDI, Bila kita mendengar membaca kata desa, yang ada dalam benak kita adalah suatu wilayah yang jauh dari hiruk pikuk kota yang bising, bebas polusi, asri, nyaman dan tenang. Dan masih dalam bayangan kita, desa masih menyimpan nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh leluhur berupa prinsip kegotongroyongan, kekerabatan dan basis kebudayaan yang memuat nilai kehormatan universal.
|
|
|
 IBRAHIM AS-SEGAFF Desa bukanlah istilah yang tepat untuk menggambarkan kompleksitas perencanaan wilayah. Desa hanyalah suatu unit kecil dalam perdesaan. Namun unit kecil inilah yang menyusun Indonesia menjadi sebuah negara yang begini luas & besar. Dan memang tak bisa dipungkiri, desa yang kita miliki lebih banyak ketimbang kota. Atas dasar inilah desa menjadi suatu yang tak bisa dikesampingkan dalam perencanaan & pengembangan regional bahkan nasional. |
|
 IU RUSLIANA, Selain bangsa pelaut, negeri ini terkenal dengan bangsa petani. Bertani atau bercocok tanam merupakan warisan nenek moyang yang telah berkembang sejak ratusan abad silam. Dari profesi tertua ini juga lahir falsafah hidup, kebudayaan, bahkan sistem kepercayaan yang unik dan sinkretik. Dengan demikian, ada yang menyebut Indonesia sebagai sebuah kiblat wilayah penelitian etnologi, antropologi, sosial-kemasyarakatan, dan budaya yang tak bakal pernah bosan diamati. Tak heran jika Pramoedya Ananta Toer, menyebut bangsa Indonesia sebagai anak segala bangsa. |
|
|
|
|
|
Halaman 1 dari 8 |